Kenapa Diam Bukan Jawaban
You are personally responsible for becoming more ethical than the society you grew up in. - Eliezer Yudkowski
Credit Instagram: @Domrobxrts
Akhir-akhir ini demonstrasi yang terjadi di Amerika Serikat mengenai George Floyd, seorang warga Amerika Serikat berkulit hitam yang dibunuh oleh aparat kepolisian pada tanggal 25 Mei lalu, membanjiri pikiran saya. Pikiran mengenai cara saya bersikap dan mengedukasi diri sebagai kawan, cara saya untuk menyadari dan memahami hak istimewa yang saya milki di saat-saat seperti ini, cara saya bertindak untuk merangkul kawan yang tertindas, dan masih banyak lagi pertanyaan dalam benak saya yang masih belum terjawab.
Saya menghabiskan beberapa malam untuk mengedukasi diri tentang apa yang terjadi di Amerika Serikat sana. Film dokumentasi seperti 13th karya Ava DuVernay, bahkan film drama seperti The Hate U Give karya George Tillman Jr. membuat saya memahami banyak hal. Kejadian mengerikan yang menimpa George Floyd dan banyak orang berkulit hitam seringkali didasarkan pada ras mereka yaitu Afrika Amerika dan adanya konotasi negatif pada warna kulit mereka yang terus dicap oleh masyarakat. Konotasi negatif inilah yang menimbulkan maraknya kasus diskriminasi sering kali terjadi, bahkan diskriminasi melalui praktik kekerasan.
Kasus diskriminasi berbasis ras bukanlah hal yang baru bagi negara manapun di dunia. Pada Amerika Serikat sendiri contohnya, sejarah dari diskriminasi ini dimulai pada masa kolonial Eropa di tanah Amerika dari awal abad ke-17 dengan banyaknya orang kulit hitam yang diculik untuk dieksploitasi menjadi budak di Amerika untuk membangun ekonomi disana. Perbudakan di Amerika Serikat sendiri baru dihapuskan pada akhir abad ke-19 dengan adanya Amandemen ke-13. Walaupun perbudakan terhadap orang kulit hitam telah dihapuskan secara legal, diskriminasi terhadap ras mereka tetaplah ada dan mengakar pada Amerika Serikat hingga saat ini. Diskriminasi yang mengakar pada Amerika Serikat mendorong banyaknya gerakan sosial seperti Civil Rights Movement pada tahun 1950-an dan #BlackLivesMatter di tahun 2013 lalu.
Tak hanya di Amerika Serikat, diskriminasi juga terjadi di Afrika Selatan dengan adanya segregasi ras yang dikenal sebagai sistem Apartheid. Apartheid juga memiliki sejarah yang sama yaitu dengan adanya perbudakan dan ketakutan akan intergasi yang akan mengarah pada asimilasi ras. Apartheid sendiri baru dihapuskan pada tahun 1990-an, hampir 50 tahun setelah sistem tersebut dicanangkan. Dampak dari sistem-sistem ini masih mengakar di banyak negara di Dunia, tak lain lagi dengan Indonesia. Satu hal yang sangat menekan di pikiran adalah minimnya pengetahuan saya tentang diskriminasi ras yang terjadi di negara saya sendiri, Indonesia.
Diskriminasi terhadap orang Papua di Indonesia masih sering terjadi dan bahkan di-“normal”-kan oleh sekelompok masyarakat. Diskriminasi ini sendiri pun tak lain lagi adalah hasil dari masa kolonial Eropa yang masih terbawa ke masyarakat saat ini. Kurangnya cakupan dan simpati di media terhadap masyarakat minoritas juga membuat masyarakat mayoritas kurang mengedukasi diri akan dampak diskriminasi yang terjadi pada masyarakat minoritas. Tak hanya di Amerika Serikat, namun diskriminasi ras di Indonesia pun juga telah merengut korban jiwa. Contohnya pada diskriminasi terhadap Eden Armando Bebari, seorang mahasiswa di Universitas Multimedia Nusantara, yang ditembak oleh aparat saat mereka sedang memancing di Kali Mile 34, Timika. Jarang adanya liputan di outlet berita akan kejadian ini, sehingga saya harus mencari tahu tentang kasus ini melalui cuitan di sosial media.
Tak lupa dengan apa yang terjadi pada Agustus 2019 lalu pada kasus Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya dan diskriminasi rasial berupa makian dengan kata-kata rasis yang dilakukan oleh aparat terhadap mahasiswa papua. Tak hanya ini, diskriminasi yang harus mereka hadapi setiap harinya adalah julukan dan ejekan dengan nama binatang yang dilontarkan kepada mereka. Selain itu, tatapan aneh dari sebagian besar masyarakat pada saat mereka berada di ruang publik mau tidak mau harus mereka terima karena jika mereka membela diri, mereka akan dicap agresif oleh sekelompok masyarakat dan juga disangkut-pautkan dengan gerakan radikal.
Tak lupa dengan apa yang terjadi pada Agustus 2019 lalu pada kasus Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya dan diskriminasi rasial berupa makian dengan kata-kata rasis yang dilakukan oleh aparat terhadap mahasiswa papua. Tak hanya ini, diskriminasi yang harus mereka hadapi setiap harinya adalah julukan dan ejekan dengan nama binatang yang dilontarkan kepada mereka. Selain itu, tatapan aneh dari sebagian besar masyarakat pada saat mereka berada di ruang publik mau tidak mau harus mereka terima karena jika mereka membela diri, mereka akan dicap agresif oleh sekelompok masyarakat dan juga disangkut-pautkan dengan gerakan radikal.
Saya banyak belajar dari keadaan akhir-akhir ini tentang bagaimana saya seharusnya bersikap untuk menentang diskriminasi dan mengapa suara saya sebagai pemilik hak istimewa atau privilege sangatlah penting untuk untuk merangkul kawan yang tertindas. Saya adalah salah seorang yang berdarah jawa, juga penganut agama mayoritas di negara ini. Saya adalah seorang mayoritas di negara ini yang membuat saya tidak perlu khawatir akan diskriminasi di lingkungan masyarakat tempat tinggal maupun sekolah. Masih banyak masyarakat mayoritas Indonesia yang tidak menyadari akan hak istimewa yang dimilikinya. Contohnya, hak istimewa ini bisa kita lihat dengan cara saya bisa berjalan santai di publik tanpa adanya pandangan aneh terhadap penampilan saya atau bahkan saya dapat mengemukakan pendapat ini tanpa adanya pikiran negatif dari pembaca bahwa saya menulis ini hanya untuk propaganda. Namun, apakah ini pernah terpikirkan sedikitpun tentang bagaimana perjuangan masyarakat minoritas yang sering kali tidak didengarkan bahkan dibungkam? Pemegang hak istimewa di Indonesia sering kali terlalu fokus terhadap apa yang mereka tidak miliki dan melupakan bahwa banyak orang di luar sana yang masih ditindas untuk mendapatkan hak yang sama seperti kita.
Mungkin anda sebagai pembaca adalah salah seorang yang ikut menyuarakan dan berpartisipasi dalam menggencarkan gerakan #BlackLivesMatter dan #PapuanLivesMatter di sosial media. Sangat disayangkan sekali, apabila anda turut mengadvokasi akan isu diskriminasi ini, namun belum memahami betul rasisme yang terjadi, termasuk rasisme yang terjadi di dalam negeri kita sendiri, Indonesia. Diskriminasi dalam bentuk apapun adalah siklus yang harus kita hentikan bersama-sama karena ini bukan perjuangan mereka saja, tapi perjuangan kita semua. Disinilah pentingnya untuk membawa jiwa aktivis anda keluar dari sosial media dan memulai percakapan di meja makan bersama keluarga atau di tempat tongkrongan bersama teman.
Diskriminasi ras tak hanya dapat dinilai apabila seseorang melakukan aksi rasisme secara verbal maupun non-verbal saja. Mungkin kita sendiri sering kali membiarkan teman sendiri mengucapkan kata-kata penghinaan ras karena akan menimbulkan argumen dan takut akan kehilangan teman. Jika seperti itu, apakah mau memilki teman di lingkaran anda yang menganggap orang lain rendah hanya karena warna kulit mereka? Membiarkan adanya perlakuan diskriminasi ras di sekitar anda secara intensional maupun tidak, kemudian, tidak menegur ataupun mengedukasi pelaku diskriminasi adalah salah satu perilaku diskriminasi, karena anda tidak menggunakan suara anda untuk memperjuangkan hak orang lain yang ditindas.
Peran saya sebagai seseorang yang memilki hak istimewa tidak bisa berhenti disini. Sebagai seseorang yang memiliki hak istimewa, saya awalnya takut untuk menyuarakan opini saya terhadap isu ini karena takut akan pernyataan saya yang salah. Namun, diam karena takut akan mengatakan hal yang salah tidak akan membawa isu ini kepada keadilan. Diam dalam situasi seperti ini menyatakan bahwa saya hanya akan memperjuangkan hak seseorang apabila mereka “sama” dengan saya. Jika kita masih kurang dalam mengedukasi diri sebelumnya, sekarang dan seterusnya adalah waktu yang tepat untuk mengedukasi diri lebih banyak lagi mengenai diskriminasi ras. Diskriminasi tidak akan selesai apabila kita tidak memahami dari mana awalnya isu ini berasal. Luangkan waktu untuk membaca buku, menonton dokumentasi, dan yang terpenting, mendengarkan suara kawan yang tertindas dan bantu mereka untuk memperkuat suara perjuangan mereka.
Apabila tulisan saya ini membuat pembaca merasa tidak nyaman akan apa yang saya bahas, ini adalah tanda bahwa selama ini kita secara tidak langsung telah diuntungkan oleh sistem yang mendiskriminasi dan disinilah saatnya kita bertanya kepada diri sendiri apa yang dapat kita lakukan untuk merubah sistem ini. Jangan diam karena anda merasa tidak nyaman dengan topik ini, bayangkan tentang kawan-kawan yang tertindas. Mereka juga tidak nyaman dan lelah akan diskriminasi yang terus dilontarkan kepada mereka. Kurangnya cakupan di outlet media saat ini adalah waktu kita sebagai pemilik hak istimewa untuk menyuarakan apa yang terjadi terhadap kawan satu negara yang masih tertindas untuk mendapatkan hak yang sama. Jangan kita biarkan diskriminasi ras, hasil dari praktek kolonialisme terbawa di diri kita masing-masing. Perubahan tidak akan berjalan kalau tidak dimulai dari diri sendiri, dengan cara mengedukasi diri dan ikut serta dalam memperjuangkan hak yang sama. Masih banyak yang kita bisa lakukan selanjutnya, namun memahami bahwa anda memiliki hak istimewa di Tanah Air ini dan menggunakan suara anda adalah poin utama yang harus kita lakukan untuk berpartisipasi dalam perubahan.
Click link-link yang sudah saya tautkan di tulisan ini — link ini saya tautkan agar pembaca dapat mengedukasi diri lebih lanjut:
- Bacaan Lebih Lanjut Tentang Diskriminasi di Indonesia:
https://books.google.co.id/books?hl=en&lr=&id=TO4xDwAAQBAJ&oi=fnd&pg=PA266&dq=diskriminasi+di+indonesia&ots=VZxQatH0BC&sig=KqEo2vK6hUF7lV0_69Of7Tq_rAs&redir_esc=y#v=onepage&q=diskriminasi%20di%20indonesia&f=false
https://media.neliti.com/media/publications/152794-ID-diskriminasi-rasial-dan-etnis-sebagai-pe.pdf
Buku: Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer
- Bacaan Lebih Lanjut Tentang Isu di Papua:
https://www.youtube.com/watch?v=HWysu5f5G1M (BBC Indonesia)
https://bringjustice.carrd.co/#injusticesinpapua
https://weneedtotalkaboutpapua.carrd.co/#
http://chng.it/HbSmz45s9B
- Bacaan Lebih Lanjut Tentang Colorism:
https://www.vice.com/en_uk/article/5gqmmz/people-told-us-about-what-its-like-dealing-with-colourism
https://www.thejakartapost.com/life/2019/08/19/whos-the-fairest-of-them-all-how-about-who-cares.html
https://youtu.be/k0svWaW9J54 my own video explaining about what is colorism and history of it (6:29)
https://www.youtube.com/watch?v=cW0InKnPIhY
https://www.bbc.com/news/entertainment-arts-49976837
- Bacaan Lebih Lanjut Tentang Privilege:
https://www.cpt.org/files/Undoing%20Racism%20-%20Understanding%20White%20Privilege%20-%20Kendall.pdf
https://www.racialequitytools.org/resourcefiles/mcintosh.pdf
- Bacaan Lebih Lanjut Tentang Performative Activism:
https://thetab.com/uk/2020/06/01/psa-your-instagram-chains-and-performative-activism-isnt-helping-anyone-159493
https://twitter.com/ULTRAGLOSS/status/1266845702736547848?s=20
- Undang-Undang Republik Indonesia Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis:
http://luk.staff.ugm.ac.id/atur/UU40-2008PenghapusanDiskriminasi.pdf
http://www.bphn.go.id/data/documents/99uu029.pdf
Sources yang saya gunakan untuk menulis opini ini:
- George Floyd Death https://www.theguardian.com/us-news/live/2020/jun/01/george-floyd-protests-donald-trump-white-house-washington-police-brutality-minneapolis-latest-news-updates
- 13th by Ava DuVernay https://www.netflix.com/title/80091741
- The Hate U Give by George Tillman Jr. https://www.newyorker.com/culture/the-front-row/the-hate-u-give-reviewed-an-empathetic-nuanced-portrait-of-a-teens-political-awakening
- Slavery in America https://www.history.com/topics/black-history/slavery#section_4
- 13th Amendment https://www.history.com/topics/black-history/thirteenth-amendment
- Apartheid https://www.britannica.com/topic/apartheid
- Cultural Assimilation https://www.britannica.com/topic/assimilation-society
- Colorism https://www.vice.com/en_uk/article/5gqmmz/people-told-us-about-what-its-like-dealing-with-colourism
https://www.thejakartapost.com/life/2019/08/19/whos-the-fairest-of-them-all-how-about-who-cares.html
https://youtu.be/k0svWaW9J54 my own video explaining about what is colorism and history of it (6:29) - Eden’s Case: https://regional.kompas.com/read/2020/04/15/11410821/salah-satu-korban-tewas-penembakan-misterius-di-mimika-merupakan-mahasiswa
https://twitter.com/teatimesyall/status/1250744611200327682?s=20 - Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya https://www.vice.com/id_id/article/pa7d99/rasialisme-pada-mahasiswa-papua-di-surabaya-berujung-demo-besar-di-manokwari-dan-jayapura
https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-49446765
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190819072043-20-422556/kronologi-pengepungan-asrama-papua-surabaya-versi-mahasiswa - Black Lives Matter https://blacklivesmatter.com
- Papuan Lives Matter https://www.instagram.com/p/CA6pYxyBMbk/?utm_source=ig_web_copy_link
- Performative Activism: https://www.instagram.com/p/CA03G6IphPp/?utm_source=ig_web_copy_link
- How To Be ACTIVELY Anti-Racist https://www.instagram.com/p/CAvbZyVh1xc/?utm_source=ig_web_copy_link

Comments
Post a Comment